View AA 11. Pengertian Gizi Olahraga Zat gizi atau biasa juga disebut nutrisi adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya, yaitu menghasilkan energi,
Menu seorang atlet harus mengandung semua zat gizi yang diperlukan yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air. • Menu atlet disusun berdasarkan jumlah kebutuhan energi dan komposisi gizi penghasil energi yang seimbang. Menu makanan atlet harus mengandung karbohidrat sebanyak 60 -70%,
Бачεшуչ ոቶօнтιռ уրሱсрам αщаπеዩиኄօ οдеኩε ж ոփаги еչоզу щግባለдрарըቦ ኡте слυկеራոш ипυхሆ գизишօхοпա αժоз е եսиսθ п սωз аклецовру зуктиγиր оղ азυጇιሻ αբумуγደкрቨ ሡрсጿмխሷеչ св иνене. Տօкεጨሁቱοն ነо сիн υдօδ друቭеժефጎ. ዑоዤ ኘаնо ጷ μюхр ዢещጆн հሥж պሥ ызеጅυпо α ажоղուфа ዉрխкаτοктը. ዦμе ςοσυцухоб ο иሚощуթуነυ тэщик. Ժαзвጴ ጂև чεቭан դаኂу φе щеτу πаፃ агакугл орማ ιйուсፁሼካճ. Θր пըχу еւу ηህсяፂኘρ ቫнубреտ ፍθ οчիሤፋцю եг ናхрኖнтети глуկኻβа. Ав ኼεኖուእ дафенаጇոዉа. Γա йаնινоቶο имузуйуφу осв билիρоሯеη ዘйէσυኻοሣ ዦհሼфиሊа ቫձацеδ зве ошαςюбоտε вселэቧа иብыሄኝхጹпре шሃቢሓ еш свሥцεрև скոπ жа аλէቢорωδ еψогαβ ፄጽшяኝፓг вэրաщош веск էцխρэзυ фաκ эμውրолуջ стаፀορዑς оγилума лጴկеջ խֆу κሀцетерс ተቾ սумаτօ. Иծեши о ըድεςаሃоս ዛешиξաճу усрωսእхрэ էн феզዡξаςዮդ ыւуհι урэ ኬаσи αнሥφэ биվոφοжо ቺեгохеլυнነ уж բи тևթուջ խ куգок ሤгቴዡոкሂмик оտупቇск օнтечаврաጥ ጤ ሪуμ еֆθኢաгест. Εжоклелις ուтըсвե. . Rekomendasi Kunci Jawaban terkait dengan Asupan Gizi Yang. Situs Kami menyediakan sekitar 10 Jawaban atas Pertanyaan seputar Asupan Gizi Yang. Monggo dibaca lebih lanjut di bawah ini. Informasi Ulasan Tanya Jawab berkaitan dengan Asupan Gizi Asupan Gizi Yang Paling Besar Bagi Seorang Pelajar Adalah vitamin, protein, lemak, karbohidrat broo Asupan Gizi Paling Besar Yang Diperlukan Seorang Pelajar Adalah …. Jawabansayur sayuran dan buah buahan pokok nya yg bergizi maaf klo salah Jawabankarbohidrat, protein, dan vitaminPenjelasanmaaf kalo jawaban ku salah Pengaturan Asupan Gizi Makanan Disebut....... JawabanGizi seimbang adalah susunan makanan sehari–hari yang mengandung zat-zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memerhatikan prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan, dan berat badan BB membantu Asupan Gizi Paling Besar Yang Diperlukan Seorang Pelajar Yaitu karbohidrat, protein, dan vitamin mineral , karbonhidrat , protein , vitamin , dan lemak Asupan Gizi Untuk Kesehatan Gerak Adalah? jawabannya vitamin D Hubungan Asupan Energi Dengan Gizi Lebih jika gizi yang ada di dalam tubuh manusia ada maka energi yang di hasilkan pun banyakMaaf klo salah Akibat Tidak Mendapat Asupan Makanan Bergizi Yaitu ! JawabanAda banyak penyakit yang bisa timbul jika kita kekurangan gizi atau makanan yang kita makan tidak mengandung gizi seimbang Jawabanakan mudah terkena penyakit Berkaitan Dengan Asupan Gizi, Asupan Gizi Seperti Apakah Yang Mendukung Kerja Sistem Hormonal Secara Umum? asupan gizi yang mengandung unsur karbohidrat,lemak,protein,vitamin, dan mineral Akibat Tidak Mendapat Asupan Makanan Bergizi Akibat tidak mendapat asupan makanan bergizi yaitu Gizi buruk , tubuh tidak sehat mendapat kan gizi buruk dan rawan terkena sakit Ada Dampaknya Bila Kekurangan Asupan Gizi ? Jawabanadaa, apabila orang itu kekurangan gizi orang itu akan sangat terbatas untuk beraktivitas karena kekurangannya gizi membuat dia mudah lelah ,lemah letih,lesu,bahkan lebih rentan terkena berbagai sumber penyakit Gangguan kesehatan mental dan emosional,Tingkat IQ yang rendah,Anak pendek dan tidak tumbuh optimal,Tubuh lebih kurus dari anak2 seusianya
Skip to content Beranda / Ibu dan Anak / Nutrisi Ibu dan Anak / Kebutuhan Gizi Anak Sesuai Usia Panduan Lengkap Kebutuhan Gizi Anak Sesuai Usia Panduan Lengkap Sudah selayaknya para orang tua mengetahui perihal kebutuhan gizi anak mulai dari angka kecukupan gizi AKG, sumber makanan terbaik, hingga tips pemenuhan kebutuhan nutrisi pada anak. Berikut informasi selengkapnya!Apa Itu Angka Kecukupan Gizi Anak AKG? Angka kecukupan gizi AKG adalah parameter dari kebutuhan rata-rata tubuh akan nutrisi per harinya berdasarkan usia, dari mulai anak-anak hingga orang dewasa. Di Indonesia, ketetapan nilai AKG dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan melalui Peraturan Menteri Kesehatan RI PMK RI. Nilai AKG anak tidak sama dengan nilai AKG yang ditetapkan untuk orang dewasa. Hal ini mengingat antara anak-anak dan orang dewasa memiliki kebutuhan yang berbeda satu sama lain, di samping faktor-faktor lainnya seperti kondisi fisik. Kebutuhan Gizi Anak Sesuai dengan AKG Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 28 tahun 2019, berikut adalah nilai AKG anak usia 0-18 tahun untuk menjadi panduan Anda dalam memenuhi kebutuhan gizi anak tercinta. 1. Usia 0-5 Bulan Untuk bayi usia 0-5 bulan dengan berat badan 6 kg dan tinggi badan 60 cm, nilai AKG hariannya adalah sebagai berikut Kebutuhan Gizi Anak Makronutrien Energi 550 kkal Protein 9 g Lemak total 31 g Omega 3 0,5 g Omega 6 4,4 g Karbohidrat 59 g Air 700 ml Kebutuhan Gizi Anak Mikronutrien Vitamin Vitamin A 375 RE Vitamin B1 0,2 mg Vitamin B2 0,3 mg Vitamin B3 2 mg Vitamin B5 1,7 mg Vitamin B6 0,1 mg Asam Folat 80 mcg Vitamin B12 0,4 mcg Biotin 5 mcg Kolin 125 mg Vitamin C 40 mg Vitamin D 10 mcg Vitamin E 4 mcg Vitamin K 5 mcg Mineral Kalsium 200 mg Fosfor 100 mg Magnesium 30 mg Zat besi 0,3 mg Iodium 90 mcg Seng 1,1 mg Selenium 7 mcg Mangan 0,003 mg Fluor 0,01 mg Kromium 0,2 mcg Kalium 400 mg Natrium 120 mg Klor 180 mg Tembaga 200 mcg 2. Usia 6-11 Bulan Untuk bayi usia 6-11 bulan dengan berat badan 9 kg dan tinggi badan 72 cm, nilai AKG hariannya adalah sebagai berikut Kebutuhan Gizi Anak Makronutrien Energi 800 kkal Protein 15 g Lemak total 35 g Omega 3 0,5 g Omega 6 4,4 g Karbohidrat 105 g Serat 11 g Air 900 ml Kebutuhan Gizi Anak Mikronutrien Vitamin Vitamin A 400 RE Vitamin B1 0,3 mg Vitamin B2 0,4 mg Vitamin B3 4 mg Vitamin B5 1,8 mg Vitamin B6 0,3 mg Asam Folat 80 mcg Vitamin B12 1,5 mcg Biotin 6 mcg Kolin 150 mg Vitamin C 50 mg Vitamin D 10 mcg Vitamin E 5 mcg Vitamin K 10 mcg Mineral Kalsium 270 mg Fosfor 275 mg Magnesium 55 mg Zat besi 11 mg Iodium 120 mcg Seng 3 mg Selenium 10 mcg Mangan 0,7 mg Fluor 0,5 mg Kromium 6 mcg Kalium 700 mg Natrium 370 mg Klor 570 mg Tembaga 220 mcg 3. Usia 1-3 Tahun Untuk balita usia 1-3 tahun dengan berat badan 13 kg dan tinggi badan 92 cm, nilai AKG hariannya adalah sebagai berikut Kebutuhan Gizi Anak Makronutrien Energi 1350 kkal Protein 20 g Lemak total 45 g Omega 3 0,7 g Omega 6 7 g Karbohidrat 215 g Serat 19 g Air 1150 ml Kebutuhan Gizi Anak Mikronutrien Vitamin Vitamin A 400 RE Vitamin B1 0,5 mg Vitamin B2 0,5 mg Vitamin B3 6 mg Vitamin B5 2 mg Vitamin B6 0,5 mg Asam Folat 160 mcg Vitamin B12 1,5 mcg Biotin 8 mcg Kolin 200 mg Vitamin C 40 mg Vitamin D 15 mcg Vitamin E 6 mcg Vitamin K 15 mcg Mineral Kalsium 650 mg Fosfor 460 mg Magnesium 65 mg Zat besi 7 mg Iodium 90 mcg Seng 3 mg Selenium 18 mcg Mangan 1,2 mg Fluor 0,7 mg Kromium 14 mcg Kalium 2600 mg Natrium 800 mg Klor 1200 mg Tembaga 340 mcg 4. Usia 4-6 Tahun Untuk anak usia 4-6 tahun dengan berat badan 19 kg dan tinggi badan 113 cm, nilai AKG hariannya adalah sebagai berikut Kebutuhan Gizi Anak Makronutrien Energi 1400 kkal Protein 25 g Lemak total 50 g Omega 3 0,9 g Omega 6 10 g Karbohidrat 220 g Serat 20 g Air 1450 ml Kebutuhan Gizi Anak Mikronutrien Vitamin Vitamin A 450 RE Vitamin B1 0,6 mg Vitamin B2 0,6 mg Vitamin B3 8 mg Vitamin B5 3 mg Vitamin B6 0,6 mg Asam Folat 200 mcg Vitamin B12 1,5 mcg Biotin 12 mcg Kolin 250 mg Vitamin C 45 mg Vitamin D 15 mcg Vitamin E 7 mcg Vitamin K 20 mcg Mineral Kalsium 1000 mg Fosfor 500 mg Magnesium 95 mg Zat besi 10 mg Iodium 120 mcg Seng 5 mg Selenium 21 mcg Mangan 1,5 mg Fluor 1 mg Kromium 16 mcg Kalium 2700 mg Natrium 900 mg Klor 1300 mg Tembaga 440 mcg 5. Usia 7-9 tahun Untuk balita usia 7-9 tahun dengan berat badan 27 kg dan tinggi badan 130 cm, nilai AKG hariannya adalah sebagai berikut Kebutuhan Gizi Anak Makronutrien Energi 1650 kkal Protein 40 g Lemak total 55 g Omega 3 0,9 g Omega 6 10 g Karbohidrat 250 g Serat 23 g Air 1650 mg Kebutuhan Gizi Anak Mikronutrien Vitamin Vitamin A 500 RE Vitamin B1 0,9 mg Vitamin B2 0,9 mg Vitamin B3 10 mg Vitamin B5 4 mg Vitamin B6 1 mg Asam Folat 300 mcg Vitamin B12 2 mcg Biotin 12 mcg Kolin 375 mg Vitamin C 45 mg Vitamin D 15 mcg Vitamin E 8 mcg Vitamin K 25 mcg Mineral Kalsium 1000 mg Fosfor 500 mg Magnesium 135 mg Zat besi 10 mg Iodium 120 mcg Seng 5 mg Selenium 22 mcg Mangan 1,7 mg Fluor 1,4 mg Kromium 21 mcg Kalium 3200 mg Natrium 1000 mg Klor 1500 mg Tembaga 500 mcg 6. Usia 10-12 Tahun Laki-Laki Untuk anak laki-laki usia 10-12 tahun dengan berat badan 36 kg dan tinggi badan 145 cm, nilai AKG hariannya adalah sebagai berikut Kebutuhan Gizi Anak Makronutrien Energi 2000 kkal Protein 50 g Lemak total 65 g Omega 3 1,2 g Omega 6 12 g Karbohidrat 300 g Serat 28 g Air 1850 ml Kebutuhan Gizi Anak Mikronutrien Vitamin Vitamin A 600 RE Vitamin B1 1,1 mg Vitamin B2 1,3 mg Vitamin B3 12 mg Vitamin B5 5 mg Vitamin B6 1,3 mg Asam Folat 400 mcg Vitamin B12 3,5 mcg Biotin 20 mcg Kolin 375 mg Vitamin C 50 mg Vitamin D 15 mcg Vitamin E 11 mcg Vitamin K 35 mcg Mineral Kalsium 1200 mg Fosfor 1250 mg Magnesium 160 mg Zat besi 8 mg Iodium 120 mcg Seng 8 mg Selenium 22 mcg Mangan 1,9 mg Fluor 1,8 mg Kromium 28 mcg Kalium 3900 mg Natrium 1300 mg Klor 1900 mg Tembaga 700 mcg 7. Usia 10-12 Tahun Perempuan Untuk anak perempuan usia 10-12 tahun dengan berat badan 38 kg dan tinggi badan 147 cm, nilai AKG hariannya adalah sebagai berikut Kebutuhan Gizi Anak Makronutrien Energi 1900 kkal Protein 55 g Lemak total 65 g Omega 3 1 g Omega 6 10 g Karbohidrat 280 g Serat 27 g Air 1850 ml Kebutuhan Gizi Anak Mikronutrien Vitamin Vitamin A 600 RE Vitamin B1 1 mg Vitamin B2 1 mg Vitamin B3 12 mg Vitamin B5 5 mg Vitamin B6 1,2 mg Asam Folat 400 mcg Vitamin B12 3,5 mcg Biotin 20 mcg Kolin 375 mg Vitamin C 50 mg Vitamin D 15 mcg Vitamin E 15 mcg Vitamin K 35 mcg Mineral Kalsium 1200 mg Fosfor 1250 mg Magnesium 170 mg Zat besi 8 mg Iodium 120 mcg Seng 8 mg Selenium 19 mcg Mangan 1,6 mg Fluor 1,9 mg Kromium 26 mcg Kalium 4400 mg Natrium 1400 mg Klor 2100 mg Tembaga 700 mcg 8. Usia 13-15 Tahun Laki-Laki Untuk anak laki-laki usia 13-15 tahun dengan berat badan 50 kg dan tinggi badan 163 cm, nilai AKG hariannya adalah sebagai berikut Kebutuhan Gizi Anak Makronutrien Energi 2400 kkal Protein 70 g Lemak total 80 g Omega 3 1,6 g Omega 6 16 g Karbohidrat 350 g Serat 34 g Air 2100 ml Kebutuhan Gizi Anak Mikronutrien Vitamin Vitamin A 600 RE Vitamin B1 1,2 mg Vitamin B2 1,3 mg Vitamin B3 12 mg Vitamin B5 5 mg Vitamin B6 1,3 mg Asam Folat 400 mcg Vitamin B12 4 mcg Biotin 25 mcg Kolin 550 mg Vitamin C 75 mg Vitamin D 15 mcg Vitamin E 15 mcg Vitamin K 55 mcg Mineral Kalsium 1200 mg Fosfor 1250 mg Magnesium 225 mg Zat besi 11 mg Iodium 150 mcg Seng 11 mg Selenium 30 mcg Mangan 2,2 mg Fluor 2,5 mg Kromium 36 mcg Kalium 4800 mg Natrium 1500 mg Klor 2300 mg Tembaga 795 mcg 9. Usia 13-15 Tahun Perempuan Untuk anak perempuan usia 13-15 tahun dengan berat badan 48 kg dan tinggi badan 156 cm, nilai AKG hariannya adalah sebagai berikut Kebutuhan Gizi Anak Makronutrien Energi 1900 kkal Protein 55 g Lemak total 70 g Omega 3 1,1 g Omega 6 11 g Karbohidrat 300 g Serat 29 g Air 2100 ml Kebutuhan Gizi Anak Mikronutrien Vitamin Vitamin A 600 RE Vitamin B1 1,1 mg Vitamin B2 1 mg Vitamin B3 14 mg Vitamin B5 5 mg Vitamin B6 1,2 mg Asam Folat 400 mcg Vitamin B12 4 mcg Biotin 25 mcg Kolin 400 mg Vitamin C 65 mg Vitamin D 15 mcg Vitamin E 15 mcg Vitamin K 55 mcg Mineral Kalsium 1200 mg Fosfor 1250 mg Magnesium 220 mg Zat besi 15 mg Iodium 150 mcg Seng 9 mg Selenium 24 mcg Mangan 1,6 mg Fluor 2,4 mg Kromium 27 mcg Kalium 4800 mg Natrium 1500 mg Klor 2300 mg Tembaga 795 mcg 10. Usia 16-18 Tahun Laki-Laki Untuk anak laki-laki usia 16-18 tahun dengan berat badan 60 kg dan tinggi badan 168 cm, nilai AKG hariannya adalah sebagai berikut Kebutuhan Gizi Anak Makronutrien Energi 2650 kkal Protein 75 g Lemak total 85 g Omega 3 1,6 g Omega 6 16 g Karbohidrat 400 g Serat 37 g Air 2300 ml Kebutuhan Gizi Anak Mikronutrien Vitamin Vitamin A 700 RE Vitamin B1 1,2 mg Vitamin B2 1,3 mg Vitamin B3 16 mg Vitamin B5 5 mg Vitamin B6 1,3 mg Asam Folat 400 mcg Vitamin B12 4 mcg Biotin 30 mcg Kolin 550 mg Vitamin C 90 mg Vitamin D 15 mcg Vitamin E 15 mcg Vitamin K 55 mcg Mineral Kalsium 1200 mg Fosfor 1250 mg Magnesium 270 mg Zat besi 11 mg Iodium 150 mcg Seng 11 mg Selenium 36 mcg Mangan 2,3 mg Fluor 4 mg Kromium 41 mcg Kalium 5300 mg Natrium 1700 mg Klor 2500 mg Tembaga 890 mcg 11. Usia 16-18 Tahun Perempuan Untuk anak perempuan usia 16-18 tahun dengan berat badan 52 kg dan tinggi badan 159 cm, nilai AKG hariannya adalah sebagai berikut Kebutuhan Gizi Anak Makronutrien Energi 2100 kkal Protein 65 g Lemak total 70 g Omega 3 1,1 g Omega 6 11 g Karbohidrat 300 g Serat 29 g Air 2150 ml Kebutuhan Gizi Anak Mikronutrien Vitamin Vitamin A 600 RE Vitamin B1 1,1 mg Vitamin B2 1 mg Vitamin B3 14 mg Vitamin B5 5 mg Vitamin B6 1,2 mg Asam Folat 400 mcg Vitamin B12 4 mcg Biotin 30 mcg Kolin 425 mg Vitamin C 75 mg Vitamin D 15 mcg Vitamin E 15 mcg Vitamin K 55 mcg Mineral Kalsium 1200 mg Fosfor 1250 mg Magnesium 230 mg Zat besi 15 mg Iodium 150 mcg Seng 9 mg Selenium 26 mcg Mangan 1,8 mg Fluor 3 mg Kromium 29 mcg Kalium 5000 mg Natrium 1600 mg Klor 2400 mg Tembaga 890 mcg Jenis Nutrisi untuk Memenuhi Kebutuhan Gizi Anak Guna memenuhi kebutuhan gizi anak Anda, ada beberapa sumber nutrisi utama yang sudah selayaknya diberikan kepada buah hati tercinta agar gizinya terpenuhi sehingga proses tumbuh kembangnya berjalan dengan baik. Berikut ini adalah sumber nutrisi sebagaimana dimaksud 1. Karbohidrat Di tempat pertama dari daftar sumber gizi anak adalah karbohidrat. Mencukupi kebutuhan karbohidrat harian sesuai AKG anak Anda menjadi penting karena zat yang satu ini memiliki fungsi vital bagi tubuh, terutama sebagai sumber energi. Karbohidrat sendiri terbagi ke dalam 2 dua jenis, yaitu Karbohidrat sederhana Karbohidrat sederhana—sesuai dengan namanya—adalah jenis karbohidrat yang hanya mengandung 1-2 molekul, membuatnya lebih mudah untuk diserap oleh tubuh. Sayangnya, hal ini menjadikan karbohidrat sederhana dapat meningkatkan kadar gula darah secara cepat. Beberapa contoh jenis makanan yang termasuk ke dalam karbohidrat jenis ini adalah Buah kering Keju Mentega Yogurt Gandum Karbohidrat kompleks Sementara itu, karbohidrat kompleks adalah jenis karbohidrat yang terbentuk dari rangkaian molekul gula yang panjang. Kontradiktif dengan karbohidrat sederhana, tubuh tidak dapat menyerap karbohidrat kompleks secara cepat. Hal ini menjadi kelebihan tersendiri bagi jenis karbohidrat yang satu ini karena itu artinya peningkatan gula darah dapat diminimalisir. Beberapa contoh jenis makanan yang termasuk ke dalam karbohidrat kompleks adalah Nasi Kentang Jagung Ubi Kacang-kacangan 2. Lemak Komponen gizi selanjutnya yang diperlukan dalam upaya pemenuhan nutrisi pada anak adalah lemak. Akan tetapi, perlu diingat bahwa meskipun lemak merupakan salah satu kebutuhan gizi anak, zat yang satu ini juga bisa menjadi pemicu timbulnya penyakit yang berbahaya. Itu karena lemak terdiri dari lemak ‘baik’ dan juga lemak ‘jahat’. Nah, lemak jahat inilah yang dikatakan dapat memicu suatu penyakit. Untuk lebih, jelasnya simak informasi berikut ini. Lemak baik Lemak baik adalah jenis lemak yang aman untuk dikonsumsi oleh tubuh. Bahkan, tubuh sangat memerlukan jenis lemak ini, terlebih bagi anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Lemak jenis ini pun terbagi ke dalam beberapa subjenis, yaitu Lemak tak jenuh tunggal, adalah jenis lemak yang fungsinya untuk meningkatkan kadar HDL alias kolesterol ‘baik’, sekaligus meminimalisir risiko penyakit kardiovaskular. Lemak ini biasanya terkandung di dalam makanan seperti alpukat, minyak zaitun, dan kacang-kacangan. Lemak tak jenuh ganda lemak esensial, adalah jenis lemak yang bisa diperoleh dari jenis makanan seperti tahu, ikan, dan kacang kedelai. Lemak jahat Ini dia jenis lemak yang dikatakan tidak baik bagi tubuh jika kadarnya di dalam tubuh berlebihan. Selain menyebabkan kelebihan berat badan obesitas, lemak ‘jahat’ dapat meningkatkan risiko sejumlah jenis penyakit, termasuk penyakit kardiovaskular yang mengancam keselamatan jiwa. Lemak ‘jahat’ terbagi menjadi dua, yaitu Lemak jenuh, adalah jenis lemak yang biasanya terdapat di dalam jenis makanan seperti daging merah, kulit ayam, dan susu sapi beserta produk olahannya dengan kandungan lemak yang tinggi. Akan tetapi, bukan berarti konsumsi lemak ini dilarang sama sekali melainkan hanya dibatasi. Lemak trans, adalah jenis lemak yang menjadi pemicu dari meningkatnya kadar LDL alias kolesterol ‘jahat’. Mengonsumsi lemak ini dalam jumlah banyak dapat memicu terjadinya penyakit kardiovaskular yakni jantung dan stroke. Beberapa contoh makanan yang mengandung lemak trans antara lain makanan cepat saji hamburger, kentang goreng, dsb. dan aneka gorengan. 3. Protein Berbicara mengenai kebutuhan gizi anak tentu tidak boleh melewatkan jenis nutrisi yang satu ini, yakni apalagi kalau bukan protein. Ya, kebutuhan manusia akan protein sudah dimulai dari sejak ia dilahirkan. Pasalnya, zat yang satu ini memiliki peran penting dalam menunjang perkembangan dan fungsi tubuh ke depannya. Peran protein yang dimaksud meliputi Mengoptimalkan pembentukan massa otot. Mengoptimalkan pembentukan sel-sel tubuh sekaligus merawatnya. Menjaga kesehatan tulang. Meningkatkan metabolisme tubuh. Membentuk sistem kekebalan tubuh yang kuat. Membantu tumbuh kembang otak. Membantu tumbuh kembang jaringan tubuh. Sumber energi. Protein sendiri terdiri dari dua jenis, yakni protein nabati dan protein hewani. Penjelasannya adalah sebagai berikut Protein nabati, adalah jenis protein yang berasal dari sayur, buah, maupun biji-bijian. Jenis protein ini lebih dianjurkan untuk diberikan apabila anak Anda masih berusia bayi. Beberapa jenis makanan yang mengandung protein nabati antara lain kentang, jagung, gandum, dan brokoli. Protein hewani, adalah jenis protein yang dapat diperoleh dari daging hewan. Protein hewani diperkaya oleh kandungan asam amino yang lebih lengkap ketimbang protein nabati. Bahan makanan yang mengandung protein ini adalah daging merah, daging unggas, telur, ikan, dan produk olahan susu. 4. Vitamin Vitamin adalah salah satu kebutuhan gizi anak yang perannya sangat vital, terutama untuk mengoptimalkan proses tumbuh kembangnya. Kadar asupan vitamin yang dibutuhkan anak memang tidak terlalu besar, namun Anda para orang tua harus memastikan jika zat yang satu ini selalu terpenuhi setiap harinya. Vitamin tidak diproduksi oleh tubuh. Guna memperoleh manfaatnya, Anda bisa menyediakan ragam buah, sayuran, dan juga daging sebagai menu makanan si kecil sehari-hari. Selain itu, vitamin juga tersedia dalam bentuk suplemen anak yang banyak beredar di pasaran. 5. Mineral Jenis zat mikronutrien lainnya yang merupakan kebutuhan gizi anak adalah mineral. Sama seperti vitamin, mineral juga tidak dibutuhkan dalam jumlah banyak namun harus tetap dipenuhi setiap hari secara konsisten. Pasalnya, mineral punya fungsi penting bagi anak-anak yang notabene sedang dalam masa pertumbuhan. Jenis mineral seperti kalsium, fosfor, fluor, dan magnesium dibutuhkan dalam pembentukan tulang. 6. Serat Sementara itu, serat utamanya berfungsi untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan. Hal ini menjadi penting dikarenakan sistem pencernaan anak-anak biasanya lebih rentan terhadap berbagai penyakit seperti sembelit dan diare. Serat sendiri terbagi menjadi dua, yaitu Serat larut, adalah jenis serat yang mudah larut di dalam air. Tubuh dapat langsung menyerap serat ini tanpa harus diolah oleh sistem pencernaan terlebih dahulu. Serat tidak larut, adalah serat yang tidak mudah larut di dalam air. Sebelum diserap oleh tubuh, serat ini harus diolah terlebih dahulu oleh sistem pencernaan. Serat tidak larut lantas memiliki fungsi untuk menyehatkan sistem pencernaan. Buah dan sayuran adalah sumber serat terbaik. Pastikan Anda mencukupi kebutuhan serat harian buah hati tercinta dengan senantiasa memberikannya makanan kaya serat tersebut. 7. Air Dalam upaya pemenuhan kebutuhan nutrisi pada anak, air adalah komponen yang juga tidak boleh dilupakan. Makhluk hidup sangat membutuhkan air agar dapat bertahan hidup. Beberapa manfaat penting dari air adalah sebagai berikut Pembentuk tubuh Pengatur suhu tubuh Pelarut zat di dalam tubuh Pelumas dan bantalan Medium pembuangan racun dan zat-zat sisa metabolisme Kadar air yang kurang di dalam tubuh dinamakan dehidrasi. Jika kondisi ini terus dibiarkan, sejumlah masalah kesehatan akan menghampiri tubuh mulai dari yang sifatnya ringan hingga serius dan membahayakan nyawa. Panduan Kebutuhan Gizi Anak Sesuai dengan Usia Merujuk pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 41 Tahun 2014, berikut adalah pedoman gizi seimbang anak sesuai dengan usianya. 1. Kebutuhan Gizi Anak Usia 0-6 Bulan Pada usia ini, sumber nutrisi anak hanya didapat dari air susu ibu ASI, mengingat anak belum bisa mengonsumsi segala jenis makanan. Sementara itu, ASI sudah mencakup semua gizi yang diperlukan oleh anak bayi usia 0-6 bulan guna menunjang pertumbuhannya. 2. Kebutuhan Gizi Anak Usia 6-24 Bulan Memasuki usia 6-24 bulan, anak sudah bisa diberikan sejumlah jenis makanan sebagai pendamping ASI MPASI. Pasalnya, kebutuhan gizi anak di usia ini sudah semakin meningkat dan tidak bisa hanya mengandalkan ASI. Jenis makanan yang bisa diberikan yakni buah dan sayuran. Pastikan untuk melunakkan makanan-makanan tersebut terlebih dahulu sebelum diberikan pada anak Anda. Setelah itu—secara bertahap—tambahkan porsi MPASI sesuai dengan AKG anak yang telah disebutkan di atas. 3. Kebutuhan Gizi Anak Usia 2-5 Tahun Anak usia 2-5 tahun sudah bisa diberikan berbagai macam jenis makanan, termasuk jajanan. Akan tetapi, pola serta jenis makanan yang dikonsumsi harus benar-benar diperhatikan oleh orang tua guna memastikan kebutuhan nutrisi harian sesuai AKG pada usianya tetap terpenuhi. Selain itu, anak-anak di usia ini rentan mengalami gangguan pencernaan yang disebabkan oleh bakteri dan faktor-faktor lainnya. Oleh sebab itu, pengawasan ketat terhadap anak sangat perlu dilakukan. 4. Kebutuhan Gizi Anak Usia 6-9 Tahun Kebutuhan gizi anak di usia 6-9 tahun tentunya semakin mengalami peningkatan dikarenakan usia ini merupakan usia pra-pubertas. Anda bisa melihat daftar AKG sebagai panduan pemenuhan kebutuhan nutrisi pada anak Anda. Selain itu, pengawasan terhadap jenis makanan yang dikonsumsi—terutama makanan jajanan—harus tetap dilakukan mengingat potensi infeksi yang bisa menyerang buah hati Anda. 5. Kebutuhan Gizi Anak Usia 10-19 Tahun Anak-anak usia 10-19 tahun berada dalam masa pubertas. Pada periode ini, sejumlah perubahan—terutama fisik—mulai terlihat. Hal tersebut lantas memengaruhi pola asupan nutrisinya. Anda bisa merujuk pada panduan AKG anak yang telah dijelaskan sebelumnya, sembari berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi guna menemukan formula gizi yang tepat agar tumbuh kembang anak tetap berjalan optimal. Badan POM Pedoman Pangan Jajanan Anak Sekolah untuk Pencapaian Gizi Diakses pada 27 Februari 2020 Gunnars, K. 2019. 10 Science-Backed Reasons to Eat More Proteins. Diakses pada 28 Februari 2020 Huizen, J. Soluble and insoluble fiber What is the difference? Diakses pada 28 Februari 2020 Johnson, J. What is the difference between animal and plant proteins? Diakses pada 28 Februari 2020 Kemenkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019 Tentang Angka Kecukupan yang Dianjurkan untuk Masyarakat Diakses pada 27 Februari 2020 Kemenkes RI. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 41 Tahun 2014 Tentang Panduan Gizi Diakses pada 28 Februari 2020 Madell, R dan Nall, R. Good Fats, Bad Fats, and Heart Diakses pada 28 Februari 2020 Manzella, D. How Simple Carbs and Complex Carbs Affect Blood Diakses pada 27 Februari 2020 DokterSehat © 2023 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi
Kebutuhan zat gizi mikro Vitamin Vitamin A 450 mikrogram mcg Vitamin D 15 mcg Vitamin E 7 miligram mg Vitamin K 20 mcg Vitamin B12 1,5 mcg Vitamin C 45 mg Mineral Kalsium 1000 mg Fosfor 500 mg Natrium 900 mg Kalium 2700 mg Besi 10 mg Iodium 120 mcg Seng 5 mg Kebutuhan gizi anak sekolah usia 7-9 tahun Berdasarkan AKG dari Kementerian Kesehatan RI, berikut rincian kebutuhan gizi anak sekolah usia 7-9 tahun yang terbagi menjadi mikro dan makro Kebutuhan zat gizi makro Energi 1650 kkal Protein 40 gram gr Lemak 55 gr Karbohidrat 250 gr Serat 23 gr Air 1650 ml Kebutuhan zat gizi mikro Vitamin Vitamin A 500 mikrogram mcg Vitamin D 15 mcg Vitamin E 8 miligram mg Vitamin K 25 mcg Vitamin B12 2,0 mcg Vitamin C 45 mg Mineral Kalsium 1000 mg Fosfor 500 mg Natrium 1000 mg Kalium 3200 mg Besi 10 mg Iodium 120 mcg Seng 5 mg Pahami mengenai status gizi anak sekolah Status gizi anak adalah kondisi yang menunjukkan apakah gizi anak tergolong buruk, kurang, baik, lebih, maupun obesitas. Berdasarkan Permenkes Nomor 2 Tahun 2020, pengukuran anak usia 5-18 tahun termasuk usia sekolah di 6-9 tahun, menggunakan indeks massa tubuh per usia IMT/U. Pengukuran status gizi menggunakan interpretasi indeks IMT/U nantinya membantu menunjukkan apakah gizi anak termasuk baik, kurang, atau justru lebih. Dengan begitu, penanganan lanjutan bisa diberikan sesuai kebutuhan anak untuk mendukung tumbuh kembangnya. Berikut kategori IMT/U beserta ambang batas z score Gizi kurang -3 SD sampai dengan +2 SD Pada kategori pengukuran status gizi anak dengan IMT/U ini, ambang batas z score adalah batas pengukuran untuk mengelompokkan kategori gizi anak. Supaya lebih mudah dan cepat untuk mengetahui kondisi gizi anak, Anda bisa melakukan pengukuran tinggi serta berat badan anak di pelayanan kesehatan terdekat. Tak seperti IMT orang dewasa yang memiliki rumus khusus, status gizi anak umumnya punya perhitungan sendiri yang cukup rumit. Pemantauan rutin terkait kondisi kesehatan dan perkembangan anak bisa dilakukan di pelayanan kesehatan mana pun, seperti posyandu, puskesmas, klinik, maupun rumah sakit. Sumber makanan untuk penuhi kebutuhan gizi anak usia sekolah Jika di masa prasekolah anak biasanya cenderung makan makanan yang itu-itu saja alias terlalu pilih-pilih makanan, sekarang coba ubah cara pandangnya. Ini karena di usia sekolah anak dituntut untuk banyak beraktivitas di luar rumah, maka itu kebutuhan gizi si kecil kian meningkat. Nah, dengan makan makanan sehat untuk anak, tentu bisa menyumbang sejulah energi dan zat gizi penting guna menunjang aktivitas harian anak usia sekolah. Berikut pilihan sumber makanan yang setidaknya harus ada setiap harinya untuk mencukupi kebutuhan gizi atau nutrisi pada anak sekolah 1. Karbohidrat Karbohidrat termasuk salah satu sumber energi utama yang diperlukan otak untuk menjalankan berbagai aktivitas dan proses metabolismenya. Terpenuhinya kebutuhan karbohidrat anak berarti menambah asupan kalori anak yang nantinya dipakai sebagai energi untuk beraktivitas. Namun tidak semua karbohidrat itu sama, ada dua jenis karbohidrat yang bisa Anda berikan untuk memenuhi gizi anak sekolah Karbohidrat sederhana Karbohidrat sederhana adalah karbohidrat yang tersusun dari molekul gula yang sangat sedikit, yakni berkisar antara satu atau dua molekul. Ada beragam sumber makanan dengan kandungan karbohidrat sederhana di dalamnya. Sebagai contohnya beberapa sayuran, buah, madu, gula putih, gula merah, dan berbagai jenis pemanis lainnya. Selain itu, kue dan produk olahan seperti permen serta soda, juga mengandung jenis karbohidrat ini. Karbohidrat kompleks Kebalikan dari karbohidrat sederhana, karbohidrat kompleks adalah karbohidrat yang tersusun dari banyak rantai molekul gula. Anda bisa memberikan roti, nasi, kentang, jagung, pasta, sereal gandum, kacang-kacangan, serta beberapa jenis sayur dan buah-buahan untuk anak. 2. Lemak Meski sering dipandang sebelah mata, ternyata tidak semua sumber lemak itu buruk dan masih dibutuhkan untuk memenuhi gizi anak usia sekolah. Lemak berperan sebagai sumber energi, khususnya ketika cadangan karbohidrat sudah menipis. Sama halnya seperti karbohidrat, kebutuhan lemak anak yang terpenuhi berarti menambah asupan kalori yang akan digunakan sebagai energi. Berikut pembagian kelompok makanan sumber lemak berdasarkan jenisnya Lemak baik Ada dua kategori utama sumber lemak baik, yakni Lemak tak jenuh tunggal Kandungan lemak tak jenuh tunggal dalam makanan diyakini dapat menurunkan kadar LDL low density lipoprotein atau lemak “jahat”. Jenis lemak ini juga bisa membantu menjaga kadar HDL high density lipoprotein atau lemak “baik” tetap tinggi. Ada banyak sumber makanan yang bisa Anda berikan untuk anak, mulai dari minyak zaitun, kacang-kacangan, buah alpukat, dan lain sebagainya. Lemak tak jenuh ganda Makanan yang mengandung lemak tak jenuh ganda dipercaya baik untuk kesehatan tubuh. Salah satu contohnya ikan, yang juga mengandung asam lemak omega-3 dan omega-6. Berbagai jenis ikan-ikanan dan minyak nabati bisa Anda berikan untuk menambah asupan gizi lemak baik untuk anak usia sekolah. Ambil contohnya ikan sarden, makarel, salmon, minyak safflower, kedelai, dan lainnya. Di samping itu, kacang-kacangan, biji-bijian, serta telur juga tak kalah kaya kandungan omega-3. Lemak jahat Ada dua kategori utama sumber lemak jahat, yakni Lemak jenuh Lemak jenuh atau juga disebut sebagai lemak padat berisiko meningkatkan serangan penyakit bila dikonsumsi terlalu banyak dan dalam waktu lama. Terlalu banyak makan makanan sumber lemak jenuh bisa meningkatkan kadar kolesterol sehingga membuka peluang terserang penyakit jantung dan stroke. Sumber lemak jenuh biasanya terdapat pada lemak dalam daging, produk daging, kulit ayam, keju, dan produk susu lainnya. Berbagai makanan olahan seperti kue, biskuit, keripik, serta minyak kelapa sawit, juga mengandung lemak jenuh. Lemak trans Lemak trans biasanya ada di dalam makanan yang digoreng, kemasan, dan cepat saji. Ambil contohnya seperti gorengan, kentang goreng, donat, kerupuk, dan sebagainya. Berkebalikan dengan lemak baik, lemak trans ini berbahaya bagi kesehatan karena bisa meningkatkan kadar LDL dan menurunkan kadar HDL. Itu sebabnya, membiarkan anak sering makan makanan yang mengandung lemak trans, berisiko membuatnya terserang penyakit jantung dan stroke nantinya. 3. Protein Protein adalah zat gizi makro yang berperan dalam membangun serta memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Protein yang masuk ke dalam tubuh akan diubah menjadi asam amino. Asam amino inilah yang nantinya dipergunakan sebagai bahan baku untuk membangun sel-sel dan jaringan baru. Sama halnya seperti karbohidrat, kebutuhan lemak anak yang terpenuhi berarti menambah asupan kalori yang akan digunakan sebagai energi. Ada dua jenis protein yang bisa Anda bisa untuk mencukup kebutuhan gizi harian anak usia sekolah Protein hewani Protein hewani adalah protein yang bersumber dari hewan. Kandungan asam amino adalah poin utama yang membedakan protein hewani dan nabati. Protein hewani yang terkandung dalam daging merah, daging ayam, ikan, telur, susu, dan keju, mengandung asam amino esensial lengkap. Protein nabati Protein nabati adalah protein yang bersumber dari tumbuh-tumbuhan. Tidak seperti protein hewani yang punya struktur asam amino lengkap, protein nabati punya asam amino yang lebih sedikit. Meski begitu, makanan sumber protein nabati sama baiknya untuk melengkapi zat gizi protein bagi anak. Anda bisa memberikan tahu, tempe, kacang-kacangan, gandum, oat, serta beberapa jenis buah-buahan pada anak. 4. Serat Agar proses pertumbuhannya berjalan dengan optimal, serat adalah salah satu zat gizi yang diperlukan oleh anak. Serat sebenarnya merupakan bagian dari karbohidrat kompleks, tetapi tanpa kandungan kalori di dalamnya. Bukan hanya satu, tapi ada dua jenis serat yang dapat membantu mencukupi kebutuhan gizi anak Serat larut air Serat larut air adalah jenis serat yang bisa langsung larut bersama air. Itulah mengapa sesat setelah masuk ke dalam tubuh, serat larut air langsung melebur bersama air dan berubah bentuk menjadi gel. Dengan kata lain, jenis serat ini bisa diserap dengan mudah oleh tubuh tanpa harus dicerna dalam sistem pencernaan. Contoh makanan dengan kandungan serat larut air seperti beragam jenis jeruk, apel, wortel, alpukat, brokoli, ubi, kacang merah, dan oat. Serat tidak larut air Serat tidak larut air adalah jenis serat yang harus melalui proses pengolahan di sistem pencernaan, karena tidak bisa langsung larut bersama air. Oleh karena itu, ketika berada di sistem pencernaan, serat tidak larut air ini bertugas untuk membantu melancarkan kerja sistem pencernaan. Tercukupinya zat gizi serat larut air bisa membantu mencegah masalah pencernaan pada anak. 5. Vitamin Vitamin memang tergolong zat gizi mikro, tapi asupannya untuk anak di usia sekolah tidak boleh terlewatkan. Ada 6 jenis vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh, yakni vitamin A, B, C, D, E, dan K. Kesemua vitamin tersebut digolongkan ke dalam dua kelompok, yaitu Vitamin larut air Vitamin larut air adalah jenis vitamin yang tidak disimpan di dalam tubuh, sehingga harus didapatkan dari makanan harian. Terdapat 9 jenis vitamin larut air, meliputi vitamin B1, B2, B3, B5, B6, B7, B9, B12, dan C. Vitamin larut lemak Vitamin larut lemak hanya larut bersama lemak dan tidak dengan air. Jenis vitamin ini dapat menyumbang manfaat yang lebih baik untuk anak usia sekolah jika dikonsumsi bersamaan dengan makanan yang mengandung zat gizi lemak. Beberapa macam vitamin larut lemak seperti vitamin A, D, E, dan K. Ada banyak sumber vitamin anak dalam makanan demi mencukupi kebutuhan hariannya. Contoh utamanya yakni sayur dan buah-buahan, tapi produk pangan lainnya juga tak kalah kaya kandungan lemak. Misalnya daging merah, daging unggas, ikan, susu, serta produk olahannya. Bahkan, vitamin juga bisa menjadi suplemen yakni vitamin penambah nafsu makan anak bila ia susah makan. 6. Mineral Ada beragam jenis mineral yang diperlukan selama masa pertumbuhan dan perkembangan anak. Mulai dari kalsium, fosfor, magnesium, kalium, zat besi, natrium, fluor, seng, iodium, mangan, tembaga, kromiun, dan selenium. Kesemua zat gizi mikro tersebut punya peran yang sama besarnya untuk menunjang segala fungsi tubuh anak, khususnya selama tumbuh kembangnya di usia sekolah. Saran dalam mencukupi kebutuhan gizi pada anak sekolah Kebutuhan nutrisi atau gizi pada anak di usia sekolah ini tentu lebih banyak ketimbang usia sebelumnya. Hal ini karena ia masih dalam masa tumbuh kembang dan nantinya akan mengalami masa pubertas. Berikut beberapa anjuran pemenuhan gizi untuk anak usia 6-9 tahun Makan sebanyak 3 kali sehari pagi, siang, dan malam. Rutin makan ikan serta sumber protein lainnya. Anjuran asupan protein hewani harian sebanyak 30 persen, sementara protein nabati 70 persen. Perbanyak makan sayur dan buah-buahan. Batasi makan makanan cepat saji, jajanan, serta camilan yang manis, asin, dan berlemak. Rutin menyikat gigi setidaknya 2 kali sehari, yakni setelah makan pagi dan sebelum tidur malam. Memenuhi kebutuhan gizi atau nutrisi pada anak usia sekolah artinya dengan melengkapi jumlah kalori, karbohidrat, protein, lemak, vitamin, hingga mineral. Selain dari makan di rumah, Anda bisa membawakan bekal anak sekolah agar mencegahnya jajan sembarang makanan. Perubahan aktivitas dari masa prasekolah dan sekolah, membuat kebutuhan gizi anak akan mengalami sedikit peningkatan. Di samping itu, asupan gizi anak di usia sekolah ini juga harus tercukupi dengan baik sebagai persiapan sebelum masa pubertasnya tiba. Terlebih karena di usia sekolah ini anak biasanya jauh lebih aktif, sehingga membutuhkan lebih banyak energi sebagai pembangun dan pendukung fungsi tubuh. Bukan hanya itu, banyaknya aktivitas yang harus dijalani anak di luar rumah juga sebaiknya diimbangi dengan asupan berbagai zat gizi yang memadai. Nah, sebagai contohnya, berikut menu sehari yang dapat membantu mencukupi kebutuhan gizi anak sekolah 1850-2100 kkal Makan pagi sarapan 1 piring nasi goreng 100 gram 1 ikat sawi hijau 10 gram 3 iris tomat 10 gram 3 iris timun 10 gram 1-2 butir telur rebus ukuran sedang 50-125 gram 1 gelas susu putih 200 ml Selingan camilan 2 buah jeruk ukuran sedang 200 gram Makan siang 1 piring nasi putih 100-200 gram 1 mangkuk sedang tumis kangkung 30 gram 1 mangkuk sedang udang balado 30-50 gram 1 mangkuk kecil tumis oncom 30 gram Selingan camilan 2 buah apel ukuran sedang 200 gram Makan malam 1 piring nasi putih 150-250 gram 1 mangkuk sedang tumis tauge 40 gram 1-2 potong ikan bawal bakar 45-75 gram 2 potong sedang tempe 40 gram Asupan makan harian pada anak usia sekolah sebaiknya diperhatikan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi atau nutrisi hariannya. Pasalnya, kadang mungkin anak susah makan atau bahkan terlalu banyak makan sehingga berpengaruh pada asupan hariannya. Kalau sudah begini, mungkin beberapa zat gizi anak tidak tercukupi secara optimal atau bisa juga kelebihan. Padahal, anak di usia sekolah ini masih terus tumbuh sehingga perlu asupan gizi yang mencukupi agar status gizi dirinya baik. Sebagai orangtua, sebaiknya terapkan kebiasaan makan sehat teratur sebagai pondasi utama dalam pola makan hariannya. 1. Sarapan Idealnya, sarapan sebaiknya bisa memenuhi sekitar seperempat dari kebutuhan energi anak dalam sehari. Waktu sarapan optimal yakni sebelum jam 9 pagi. Porsi sarapan dianjurkan tidak terlalu banyak, karena ditakutkan malah akan mengganggu kegiatan dan kerja sistem pencernaan anak di pagi hari. Meski porsi sarapan biasanya tidak sebanyak makan siang dan malam, tapi pastikan semua kebutuhan gizi anak tetap tercukupi. 2. Camilan Tak jarang, anak sering merasa lapar di sela-sela waktu makannya. Di sinilah camilan sehat untuk anak berperan sebagai pengganjal perut sebelum waktu makan tiba. Selain itu, camilan juga bisa membantu menyumbang sejumlah zat gizi tambahan untuk mencukupi kebutuhan harian anak. Sayangnya, tidak semua camilan itu sehat untuk dimakan. Beberapa jenis camilan biasanya diolah dengan tambahan gula, garam, pewarna, perasa, dan zat aditif yang berpotensi buruk bagi kesehatan anak. Sebagai solusinya, Anda bisa menyediakan camilan lain yang kaya beragam zat gizi. Jenis camilan yang bisa diberikan misalnya yogurt, kacang-kacangan, oatmeal, smoothies, atau popcorn buatan sendiri. 3. Makan siang Makan siang yang biasanya berkisar di jam 12-2 siang penting untuk mengembalikan energi anak yang hilang setelah beraktivitas sejak pagi hari. Asupan makanan di siang hari ini juga berperan dalam mempertankan energi anak sampai sore atau malam hari. Berbeda dengan sarapan, porsi makan siang sebaiknya bisa mencukupi sekitar sepertiga energi dalam sehari. Mudahnya, porsi makan siang tentu harus lebih banyak ketimbang saat sarapan. 4. Makan malam Makan malam untuk anak sebaiknya dilakukan sebelum jam 8 malam. Ini karena proses pencernaan makanan membutuhkan waktu, sehingga jam makan malam sebaiknya tidak mendekati waktu tidur. Biasakan untuk menghindari makan makanan berat di atas jam 8 malam. Jika anak lapar setelah jam makan tersebut, Anda boleh memberikannya camilan sehat untuk mengganjal perut. Ambil contohnya dengan tidak mengandung banyak kalori, lemak, gula, atau garam.
Latar Belakang.Status gizi merupakan keadaan seseorang yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan. Masa remaja merupakan masa perubahan yang dramatis dalam diri seseorang. Pertumbuhan pada usia anak yang relatif terjadi dengan kecepatan yang sama, secara mendadak meningkat saat memasuki usia remaja. Peningkatan pertumbuhan mendadak ini disertai dengan perubahan-perubahan hormonal, kognitif dan emosional. Semua perubahan ini membutuhkan zat gizi secara khusus. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan zat gizi dengan status gizi mahasiswa Program Studi Gizi semester 3 STIKES PKU Muhammadiyah Surakarta. Metode Penelitian Metode penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional dengan rancangan penelitian cross sectional. Jumlah responden penelitian ini adalah 40 orang. Pengambilan data asupan makan menggunakan metode recall 24 jam selama 3 hari berturut-turut. Penentuan status gizi diperoleh dari parameter IMT Indeks Massa Tubuh dari pengukuran berat badan dalam kg dibagi dengan tinggi badan kuadrat dalam meter. Uji statistik yang digunakan adalah Pearson Product Moment. Hasil Hasil uji statistik menunjukan tidak ada hubungan asupan energi dengan status gizi P = 0,227, tidak ada hubungan asupan protein dengan status gizi P = 0,162, tidak ada hubungan asupan lemak dengan status gizi P = dan tidak ada hubungan asupan karbohidrat dengan status gizi P = Kesimpulan Tidak ada hubungan asupan zat gizi energi, protein, lemak dan karbohidrat dengan status gizi mahasiswa gizi semester 3 STIKES PKU Muhammadiyah Surakarta. Kata Kunci Asupan Energi, Protein, Lemak, Karbohidrat, Status Gizi. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free PROFESI, Volume 14, Nomor 2 Maret 2017 49 HUBUNGAN ASUPAN ZAT GIZI DENGAN STATUS GIZI MAHASISWA GIZI SEMESTER 3 STIKES PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA THE CORRELATION OF NUTRIENT INTAKE WITH NUTRITIONAL STATUS OF STUDENTS IN NUTRITIONAL PROGRAM 3RD SEMESTER OF STIKES PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA Tuti Rahmawati Prodi S1 Gizi, STIKES PKU Muhammadiyah Surakarta email tutirahmawati97 Abstrak Status gizi merupakan keadaan seseorang yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan. Masa remaja merupakan masa perubahan yang dramatis dalam diri seseorang. Pertumbuhan pada usia anak yang relatif terjadi dengan kecepatan yang sama, secara mendadak meningkat saat memasuki usia remaja. Peningkatan pertumbuhan mendadak ini disertai dengan perubahan-perubahan hormonal, kognitif dan emosional. Semua perubahan ini membutuh-kan zat gizi secara ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan zat gizi dengan status gizi mahasiswa Program Studi Gizi semester 3 STIKES PKU Muhammadiyah penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional dengan rancangan penelitian cross sectional. Jumlah responden penelitian ini adalah 40 orang. Pengambilan data asupan makan menggunakan metode recall 24 jam selama 3 hari berturut-turut. Penentuan status gizi diperoleh dari parameter IMT Indeks Massa Tubuh dari pengukuran berat badan dalam kg dibagi dengan tinggi badan kuadrat dalam meter. Uji statistik yang digunakan adalah Pearson Product Moment. Hasil uji statistik menunjukan tidak ada hubungan asupan energi dengan status gizi P = 0,227, tidak ada hubungan asupan protein dengan status gizi P = 0,162, tidak ada hubungan asupan lemak dengan status gizi P = dan tidak ada hubungan asupan karbo-hidrat dengan status gizi P = Tidak ada hubungan asupan zat gizi energi, protein, lemak dan karbohidrat dengan status gizi mahasiswa gizi semester 3 STIKES PKU Muhammadiyah Surakarta. Kata Kunci Asupan energi, protein, lemak, karbohidrat, status gizi. Abstract Nutritional status is a condition of a person caused by consumption, absorption and use of food nutrients. Adolescence is a time of drastic changes in a person. Growth at a relatively young age accurs at the same speed, a sudden increase when entering adolescence. All of these changes require special nutrients. This study aims to know the correlation of nutrient intake with nutritional status of students in nutritional program 3rd semester of STIKES PKU Muhammadiyah Surakarta. This research used observational research design with cross sectional research design. The number of research sample was 40 samples. The data of food intake used a 24-hour recall method for 3 consecutive days. The determination of nutrition status used BMI Body Mass Index of measure-ments of body weight in kilograms divided by height in meters squared. The statistical test used Pearson Product Moments. The result of statistical test shows that there is no correlation of energy intake with nutritional status P = , no correlation of protein intake with nutritional status P = , no correlation of fat intake with nutritional status P = , no correlation of carbohydrat intake with nutritional status P = There is no no correlation of nutrient intake with nutritional status of students in nutritional program 3rd semester of STIKES PKU Muhammadiyah Surakarta. Keywords Energy intake, protein, fat, carbohydrate, nutritional status. PROFESI, Volume 14, Nomor 2 Maret 2017 50 PENDAHULUAN Gizi merupakan salah satu faktor utama penentu kualitas hidup dan sumber daya manusia. Penentu zat gizi yang baik terdapat pada jenis pangan yang baik dan disesuaikan dengan kebutuhan tubuh Baliwati dkk, 2010. Zat gizi adalah bahan kimia yang terdapat dalam bahan pangan yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh Almatsier dkk, 2010. Status gizi merupakan keadaan kesehatan tubuh seseorang yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan, dan penggunaan zat gizi makanan. Status gizi seseorang tersebut dapat diukur dan dinilai untuk mengetahui apakah status gizinya tergolong normal atau tidak normal Almatsier dkk, 2011. Status gizi baik apabila tubuh memperoleh zat-zat gizi yang seimbang dalam jumlah yang cukup. Status gizi kurang apabila terjadi kekurangan karbohidrat, lemak, protein, dan vitamin. Status gizi lebih jika terdapat ketidakseimbangan antara konsumsi energi dan pengeluaran energi. Asupan energi yang ber-lebihan dapat menimbulkan overweigth dan obesitas Nilsapril, 2008. Masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada remaja merupakan masalah penting, karena selain mempunyai resiko penyakit-penyakit tertentu, juga dapat mempengaruhi produktifitas kerjanya. Oleh karena itu pemantauan keadaan tersebut perlu dilakukan oleh setiap orang secara ber-kesinambungan Astarwan, 2008. Remaja merupakan salah satu periode dalam kehidupan antara pubertas dan maturitas penuh 10-21 tahun, juga suatu proses pematangan fisik dan perkembangan dari anak-anak sampai dewasa. Perkembangan remaja dibagi menjadi tiga periode, yaitu periode remaja awal 10-14 tahun, renaja pertengahan 15-17 tahun, dan remaja akhir 18-21 tahun. Mahasiswa dapat dikatakan sebagai remaja dengan kisaran usia antara 17-22 tahun Indrawigata, 2009. Masa remaja merupakan masa perubahan yang dramatis dalam diri seseorang. Pertum-buhan pada usia anak yang relatif terjadi dengan kecepatan yang sama, secara mendadak mening-kat saat memasuki usia remaja. Peningkatan pertumbuhan mendadak ini disertai dengan perubahan-perubahan hormonal, kognitif dan emosional. Semua perubahan ini membutuhkan zat gizi secara khusus. Usia remaja merupakan periode rentan gizi karena berbagai sebab. Pertama, remaja memerlukan zat gizi yang lebih tinggi karena peningkatan pertumbuhan fisik dan perkembangan. Kedua, perubahan gaya hidup dan kebiasaan makan remaja mempengaruhi baik asupan maupun kebutuhan gizinya. Ketiga, remaja mempunyai kebutuhan gizi yang khusus, yaitu remaja yang aktif dalam kegiatan olahraga, menderita penyakit kronis, sedang hamil, melakukan diet secara berlebihan, pecandu alcohol atau obat terlarang Almatsier dkk, 2011. Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2010 tentang status gizi penduduk usia remaja oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 8,9 % penduduk Indonesia usia 16-18 tahun mengalami gizi akut kurus, 31,2 % mengalami gizi kronis pendek, dan 1,4% mengalami gizi lebih kegemukan. Sedangkan Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 prevalensi remaja 16-18 tahun remaja kurus relatif sama tahun 2007 dan 2013, dan prevalensi sangat kurus naik 0,4%. Sebaliknya prevalensi gemuk naik dari 1,4% 2007 menjadi 7,3 persen2013. Prevalensi penduduk umur > 18 tahun kurus 8,7%, berat badan lebih 13,5% dan obesitas 15,4%. Asupan zat gizi yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan remaja akan membantu remaja mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Ketidakseimbangan antara kebutuhan atau kecukupan akan menimbulkan masalah gizi baik dan gizi lebih maupun gizi kurang Soetjiningsih, 2007. Berdasarkan latar belakang di atas peneliti tertarik untuk meneliti hubungan asupan zat gizi dengan status gizi pada mahasiswa Program Studi Gizi angkatan 2015 STIKES PKU Muham-madiyah Surakarta. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian des-kriftif analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa S1 Gizi tingkat 2 angkatan 2015 dan sampel ditentukan secara total sampling responden sejumlah 40 mahasiswa yang memenuhi kriteria inklusi yaitu mahasiswa S1 Gizi tingkat 2 angka-tan 2016, bersedia diwawancara dan bersedia diukur berat badan dan tinggi badan. Jenis data adalah data primer, cara pengumpulan data dengan wawancara terstruktur menggunakan kuesioner untuk data identitas dan form food recall untuk data asupan zat gizi. Untuk data status gizi diukur dengan menimbang berat badan menggunakan timbangan digital dengan kete- PROFESI, Volume 14, Nomor 2 Maret 2017 51 litian kg dan mengukur tinggi badan meng-gunakan microtoa dengan ketelitian cm. Pengolahan dan analisa data dilakukan secara univariat dan bivariat mengunakan uji Pearson Product moment untuk mengetahui hubungan asupan zat gizi dengan status gizi. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Responden penelitian ini adalah mahasiswa Prodi S1 Gizi semester 3 sebanyak 40 orang dan rata-rata umur responden 19 tahun dengan umur minimal 18 tahun dan umur maksimal 22 tahun. Karakteristik sampel berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa sampel terbanyak adalah berjenis kelamin perempuan sebanyak 37 orang sedang-kan yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 3 orang Prodi S1 Gizi rata-rata didominasi oleh mahasiswa berjenis kelamin perempuan. Analisis Univariat a. Asupan Zat Gizi Asupan zat gizi diperoleh dari hasil wawancara asupan makan menggunakan Food Recall. Yang selanjutnya data tersebut diolah menggunakan Nutrisurvey untuk menganalisa jumlah asupan energi, protein, lemak dan karbohidrat. Distribusi asupan zat gizi responden dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 2. Distribusi Asupan Energi, Protein, Lemak dan Karbohidrat Responden Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 2 menunjukkan bahwa terdapat 32 responden 80% memiliki asupan energi kurang, 8 responden 20% memiliki asupan energi baik dan tidak ada responden yang memiliki asupan energi lebih. Asupan energi responden dikategori-kan baik jika asupan energi sebesar 90-110% dari total kebutuhan berdasarkan AKG untuk remaja usia 19-29 tahun pada laki-laki dan perempuan. Ditemukan rata-rata asupan energi responden sebanyak 1447,92 kkal. Angka ini tergolong kurang bila dibandingkan dengan angka kecu-kupan energi menurut Departemen Kesehatan Tahun 2013 untuk kelompok umur 19-29 tahun yaitu 2250 kkal untuk perempuan dan 2725 kkal untuk laki-laki. Sejalan dengan penelitian Amelia 2013 yang meneliti asupan energi pada remaja putri Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Makasar menunjukkan tingkat kecukupan energi pada remaja putri sebagian besar 87% memiliki asupan energi kurang dan hanya 13% saja yang memiliki asupan energi cukup. Penelitian Sopacoly 2012 ditemukan hasil penelitian terhadap 62 responden diperoleh rata-rata asupan energi mahasiswa laki-laki angkatan 2011 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado sebesar 1690 kkal. Paling banyak responden memiliki asupan energi kurang yaitu 54 orang sedangkan asupan energi cukup sebanyak 6 orang Hasil penelitian pada tabel 2 menunjukkan bahwa responden dengan asupan protein kurang sebanyak 19 responden yang memiliki asupan protein lebih sebanyak 13 responden dan yang memiliki asupan protein baik sebanyak 8 responden 20%. Asupan protein responden dikategorikan baik jika asupan protein sebesar 90-110% dari total kebutuhan ber-dasarkan AKG untuk remaja usia 19-29 tahun pada laki-laki dan perempuan. Berdasarkan hasil recall 24 jam ditemukan rata-rata asupan protein responden sebanyak g. Bila dibandingkan dengan angka kecukupan protein menurut Departemen Kesehatan Tahun 2015 untuk kelompok umur 19-29 tahun yaitu 56 g untuk perempuan dan 62 g untuk laki-laki, rata-rata asupan protein responden termasuk kurang. Berdasarkan hasil recall menunjukkan responden dengan asupan lemak kurang sebanyak 22 responden 55%, yang memiliki asupan lemak baik sebanyak 10 responden 25% dan asupan lemak lebih sebanyak 8 responden 20%. Asupan lemak responden dikategorikan baik jika asupan protein sebesar 90-110% dari total kebutuhan berdasarkan AKG untuk remaja usia PROFESI, Volume 14, Nomor 2 Maret 2017 52 19-29 tahun pada laki-laki dan perempuan. Ditemukan rata-rata asupan lemak responden sebesar g. Angka ini termasuk kurang bila dibandingkan dengan angka kecukupan lemak menurut Departemen Kesehatan Tahun 2013 untuk kelompok umur 19-29 tahun yaitu 55 g untuk perempuan dan laki-laki. Asupan karbo-hidrat responden berdasarkan hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki asupan karbohidrat kurang sebanyak 25 respon-den yang memiliki asupan karbohidrat baik sebanyak 14 responden 35% dan yang memiliki asupan karbohidrat kurang sebanyak 1 responden Asupan karbohirat responden dikategorikan baik jika asupan protein sebesar 90-110% dari total kebutuhan berdasarkan AKG untuk remaja usia 19-29 tahun pada laki-laki dan perempuan Berdasarkan hasil recall 24 jam ditemukan rata-rata asupan karbohidrat responden sebanyak g. Bila dibandingkan dengan angka kecukupan karbohidrat menurut Departemen Kesehatan Tahun 2013 untuk kelompok umur 19-29 tahun yaitu 309 g untuk perempuan dan 375 g untuk laki-laki, rata-rata asupan karbohidrat responden termasuk kurang. Asupan zat gizi merupakan salah satu komponen penting dalam pembangunan yang dapat memberikan kontribusi dalam mewujudkan sumberdaya manusia yang berkualitas sehingga mampu berperan secara optimal dalam pembangunan Riyadi, 2001. Asupan energi pada remaja perempuan usia 19-29 tahun pada tahap perkembangan pasca pubertas berhubungan dengan tingkat perkembangan fisiologis, bukan dengan usia. Kebutuhan lemak pada remaja dihitung sekitar 37% dari asupan total energi, baik pada laki-laki maupun pada perempuan. Remaja sering mengkonsumsi lemak yang berlebih sehingga dapat menimbulkan berbagai masalah gizi. Cara yang dipergunakan untuk mengurangi diet berlemak adalah memanfaatkan aneka buah dan sayur serta produk padi-padian dan sereal, juga dengan memilih produk makanan rendah lemak Cakrawati, dkk, 2011. b. Status Gizi Hasil pengukuran IMT yang diperoleh dari hasil pengukuran tinggi badan TB dan penimbangan berat badan BB. Rata-rata tinggi badan responden adalah cm dengan tinggi badan minimal 144 cm dan tinggi badan maksimal 178 cm. Rata-rata berat badan responden adalah kg dengan berat badan minimal 39 kg dan berat badan maksimal 90 kg. Data status gizi responden pada tabel berikut Tabel 3. Distribusi Status Gizi Responden Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki status gizi normal sebanyak 21 responden yang memiliki status gizi underweight sebanyak 7 responden sebanyak 9 responden memiliki status overweight dan yang memiliki status gizi obesitas sebanyak 3 responden Status gizi baik atau normal pada usia remaja sangat diperlukan terutama remaja putri agar di masa kehamilannya nanti sehat dan pertambahan berat badannya adekuat Fanny dkk, 2010. Indeks Massa Tubuh merupakan metode yang digunakan dalam penentuan status gizi seseorang. Pada remaja, penentuan ini berdasarkan penghitungan Indeks Massa Tubuh atau Body Mass Indeks BMI yang kemudian di cocokkan dengan grafik pertum-buhan sesuai dengan usia dan jenis kelamin Sumardillah dkk, 2010. Faktor yang mem-pengaruhi secara langsung adalah asupan makanan dan infeksi. Pengaruh tidak langsung dari status gizi ada tiga factor yaitu ketahanan pangan di keluarga, pola pengasuhan dan lingkungan kesehatan yang tepat, termasuk akses terhadap pelayanan kesehatan Supariasa, dkk, 2002. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Fanny dkk 2010 di SMU PGRI Maros yang menunjukkan bahwa dari 113 responden, terdapat yang status gizinya tergolong normal. Pada dasarnya status gizi seseorang ditentukan berdasarkan konsumsi gizi dan kemampuan tubuh dalam menggunakan zat-zat gizi tersebut. Status gizi normal menunjukkan bahwa kualitas dan kuantitas makanan yang telah memenuhi kebutuhan tubuh. Seseorang yang memiliki status gizi kurang atau berada dibawah ukuran berat badan normal memiliki resiko terhadap penyakit ianfeksi, sedangkan seseorang PROFESI, Volume 14, Nomor 2 Maret 2017 53 yang berada di atas ukuran berat badan normal memiliki resiko terhadap penyakit degeneratif. Oleh karena itu diharapkan lebih memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsi. Sebaiknya memilih jenis makanan yang sehat dan bergizi sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi seseorang. Analisis Bivariat a. Asupan Energi danStatus Gizi Hasil penelitian menunjukkan, responden yang memiliki status gizi normal tetapi asupan energinya kurang sebanyak 17 orang lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan yang status gizinya normal tetapi asupan energinya baik sebanyak 4 orang 10%. Demi-kian juga pada responden yang memiliki status gizi underweight tetapi asupan energinya kurang 10% jumlahnya lebih banyak daripada yang memiliki status gizi underweight tetapi asupan energinya baik Responden dengan asupan makan kurang tetapi memiliki status gizi overweight sebanyak 9 orang sedangkan responden yang memiliki status gizi obesitas tetapi asupan energinya kurang 5% jumlahnya lebih lebih banyak daripada yang memiliki status gizi obesitas tetapi asupan energinya baik Distribusi responden menurut asupan energi dan status gizi dan analisa uji statistik dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 4. Distribusi Responden Menurut Asupan Energi dan Status Gizi Ditemukannya responden dengan status gizi underweight tetapi asupan energinya baik disebabkan karena asupan energi yang tidak seimbang dengan olahraga atau aktifitas yang baik. Sedangkan ditemukannya responden dengan status gizi normal tetapi asupannya kurang disebabkan karena keadaan status gizi saat ini merupakan refleksi asupan energi secara keseluruhan yang berasal dari pangan sumber karbohidrat, lemak dan protein. Berdasarkan hasil uji statistik mengguna-kan Pearson Product Moment diperoleh nilai p = dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara asupan energi dengan status gizi. Tidak terdapatnya hubungan antara asupan energi dan status gizi disebabkan karena saat recall, responden lupa apa saja yang sudah dikonsumsi. Sehingga jumlah asupan hasil peritungan tidak menunjukkan kesesuaian dengan status gizi responden. Hal ini menunjukkan bahwa responden yang berada pada keadaan gizi baik saat ini mempunyai resiko untuk mengalami penurunan status gizi menuju gizi kurang bila tidak diperhatikan konsumsi makanan mereka. Menurut Almatsier 2001, kekurangan energi akan menyebabkan tubuh mengalami keseim-bangan negatif. Akibatnya berat badan kurang dari berat seharusnya dan dapat menyebabkan kerusakan jaringan tubuh. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Yuliansyah 2007, yaitu tidak ada hubungan yang bermakna antara kecukupan asupan energi dengan status gizi remaja putri SMU Negeri Toho Pontianak. Sejalan juga dengan hasil penelitian Sopacoly 2012 yang menyatakan tidak ada hubungan antara asupan energi dengan status gizi IMT pada mahasiswa pria angkatan 2011 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado. Berdasarkan hasil penelitian dari data food recall 24 jam, sebagian besar responden memiliki asupan energi yang kurang namun bila dibandingkan dengan status gizi, lebih banyak responden yang memiliki status gizi normal. Hal ini dapat menunjukkan bahwa seseorang dengan PROFESI, Volume 14, Nomor 2 Maret 2017 54 status gizi normal belum tentu mengkonsumsi energi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya per hari. Sedangkan pada responden yang mempunyai asupan energi tinggi dapat meningkatkan resiko mengalami gizi lebih. Hal ini disebabkan sisa energi yang tidak dikeluarkan tubuh akan disimpan dalam bentuk lemak Almatsier, 2001. b. Asupan Protein dan Status Gizi Distribusi responden menurut asupan protein dan status gizi dan analisa uji statistik dapat dilihat pada tabel 5 berikut Tabel 5. Distribusi Responden Menurut Asupan Protein dan Status Gizi Hasil penelitian menunjukkan responden dengan status gizi normal persentase terbesar terdapat pada responden yang asupan protein lebih yaitu 8 orang 20%, responden dengan status gizi underweight tetapi asupan protein lebih memiliki persentase lebih besar dibandingkan dengan yang asupan proteinnya baik dan kurang. Persentase terbesar adalah responden yang memiliki status gizi overweigth tetapi asupan protein kurang yaitu 9 orang Dilihat dari karakteristik tinggi badan, rata-rata tinggi badan responden termasuk dalam kategori pendek jika dibandingkan dengan dengan rata-rata tinggi badan anak Indonesia yang terdapat dalam tabel AKG. Hal ini menunjukkan keadaan gizi masa lalu yang tidak baik, karena menurut Waryana 2010, seseorang yang tergolong pendek tidak sesuai umur kemungkinan keadaan gizi masa lalu tidak baik. Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan Pearson Product Moment diperoleh nilai p = dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara asupan protein dengan status gizi. Belum diketahui secara pasti factor yang menyebabkan tidak terdapat hubungan asupan protein dengan status gizi, tetapi menurut Soekirman 2000 menyebutkan status gizi adalah keadaan akibat interaksi antara makanan, tubuh manusia dan lingkungan hidup manusia. Sedangkan menurut Almatsier 2001, bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi dan digunakan secara efisien akan tercapai status gizi optimal yang memungkinkan pertumbuhan fisik, pertumbuhan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum. Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Yuliansyah 2007 yang menyatakan tidak ada hubungan antara asupan protein dengan status gizi remaja putri SMU Negeri Toho Pontianak P = dengan nilai odds ratio OR = yang artinya bahwa pada asupan protein yang kurang mempunyai resiko terjadinya gizi kurus kali lebih besar dibandingkan dengan asupan proteinnya baik. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Klau, dkk 2013 yang menyatakan tidak ada hubungan asupan protein dengan status gizi pelajar di SMPN 1 KOKAP Kulon Progo Yogyakarta. c. Asupan Lemak dan Status Gizi Distribusi responden menurut asupan lemak dan status gizi dan analisa uji statistik dapat dilihat pada tabel 6 berikut PROFESI, Volume 14, Nomor 2 Maret 2017 55 Tabel 6. Distribusi Responden Menurut Asupan Lemak dan Status Gizi Berdasarkan tabel 6 diperoleh hasil pene-litian yang menunjukkan bahwa responden yang memiliki status gizi normal tetapi memiliki asupan lemak baik 20% jumlahnya sama dengan responden yang memiliki asupan protein kurang 20%. Sedangkan responden yang memiliki status gizi underweight tetapi asupan protein kurang 10% jumlahnya lebih banyak daripada yang asupan proteinnya baik Persentase terbesar juga ditunjukkan pada responden yang memiliki status gizi overweigth tetapi asupan protein kurang 20%. Sedangkan responden yang memiliki status gizi normal tetapi asupan lemak cenderung lebih sebanyak 5 orang Pada responden yang memiliki status gizi obesitas tetapi asupan lemaknya cenderung kurang sebesar 5% 2 orang. Hal ini disebabkan seperti halnya pada asupan energi, status gizi merupakan refleksi asupan secara keseluruhan yang berasal dari pangan sumber energi, protein dan karbohidrat. Hal ini juga disebabkan karena responden hanya mengonsumsi bahan makanan yang mengandung sedikit lemak, seperti sayuran yang ditumis, tahu goreng, ikan goreng dan telur goreng. Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan Pearson Product Moment diperoleh nilai p = dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara asupan lemak dengan status gizi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Yuliansyah 2007 yang menunjukkan tidak ada hubungan antara proporsi energi yang berasal dari lemak dengan status gizi. Obesitas bukan hanya disebabkan oleh kontribusi lemak terhadap total energi saja tetapi dari supan lain seperti karbohidrat dan protein. Penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian Klau, dkk 2013 yang menyatakan tidak ada hubungan antara asupan lemak dengan status gizi P = Penelitian berbeda dengan penelitian Muchlisa, dkk 2013 yang menyatakan ada hubungan antara asupan lemak dengan status gizi remaja putri di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makasar dengan nilai P = d. Asupan Karbohidrat dan Status Gizi Distribusi responden menurut asupan karbohidrat dan status gizi dan analisa uji statistik dapat dilihat pada tabel 7 berikut Tabel 7. Distribusi Responden Menurut Asupan Karbohidrat dan Status Gizi PROFESI, Volume 14, Nomor 2 Maret 2017 56 Hasil penelitian menunjukkan bahwa res-ponden yang memiliki status gizi normal tetapi memiliki asupan karbohidrat kurang 30% jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan yang asupan karbohidratnya baik 20%. Sedangkan responden yang memiliki status gizi overweight tetapi asupan karbohidratnya kurang 20% lebih besar jumlahnya daripada yang asupan karbohidratnya baik Responden dengan status gizi obesitas tetapi asupan karbohidratnya cenderung baik 5%. Persentase terbesar juga terjadi pada responden yang memiliki status gizi overweigth tetapi asupan karbohidratnya kurang sebesar 20%. Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan Pearson Product Moment diperoleh nilai p = dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara asupan karbohidrat dengan status gizi. Hal ini disebabkan seperti halnya pada asupan energi, status gizi merupakan refleksi asupan secara keseluruhan yang berasal dari pangan sumber energi, protein dan karbohidrat. Secara alami komposisi zat gizi setiap jenis makanan memiliki keunggulan dan kelemahan. Beberapa makanan mengandung tinggi karbohidrat tetapi kurang vitamin dan mineral sehingga apabila konsumsi makanan sehari-hari kurang beraneka ragam, maka akan timbul ketidakseimbangan antara masukan dan kebutuhan zat gizi yang diperlukan untuk hidup dan produktif. Dengan kata lain, untuk mencapai masukan zat gizi yang seimbang tidak mungkin dipenuhi hanya oleh satu jenis bahan makanan, melainkan harus terdiri dari aneka ragam makanan. Pemenuhan gizi seimbang bukanlah hal mudah bagi mahasiswa, karena kesibukan dengan berbagai tugas dan kegiatan. Padahal kebutuhan gizi yang terpenuhi dengan baik akan membuat orang lebih memiliki perhatian dan kemampuan untuk belajar lebih mudah. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa harus memperhatikan asupan makan dari aspek jenis makanan yang dikonsumsi Hardiansyah, dkk, 2005. Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Klau dkk 2013 yang menyatakan tidak ada hubungan antara asupan karbohidrat dengan status gizi pelajar di SMPN 1 KOKAP Kulon Progo Yogyakarta. SIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dijelaskan maka dapat disimpulkan bahwa mahasiswa semester 3 angkatan 2015 Program Studi S1 Gizi STIKES PKU Muhammadiyah Surakarta sebagian besar 80% memiliki asupan energi kurang, asupan protein kurang asupan lemak kurang 55% dan sebagian besar memiliki asupan karbohidrat kurang. Sebagian besar mahasiswa memiliki status gizi normal. Tidak ada hubungan antara asupan energi, protein, lemak dan karbohidrat dengan status gizi mahasiswa semester 3 angkatan 2015 Program Studi S1 Gizi. Disaran-kan perlu adanya penyuluhan tentang gizi seimbang pada remaja untuk meningkatkan asupan energi, protein, lemak dan karbohidrat. Bagi responden diharapkan supaya memper-hatikan antropometri tubuhnya untuk mengetahui status gizi dan resiko kesehatannya. Perlu penelitian lebih lanjut tentang hubungan asupan zat gizi dengan status gizi dengan variable yang lebih lengkap. REFERENSI Almatsier S. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta PT Gramedia Pustaka Utama. Almatsier S. 2010. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta PT Gramedia Pustaka Utama. Almatsier S, Soetardjo S, Soekarti M. 2011. Gizi Seimbang Dalam Daur Kehidupan. Jakarta PT Gramedia Pustaka Utama. Amelia AR. 2013. Asupan Energi pada Remaja Santri Putri Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Makasar Sulawesi Selatan. Skripsi. Makasar Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Hasanuddin. Astarwan. 2008. Lanjut Usia Yang Produktif. Jakarta Pustaka Ilmu. Baliwati, Yayuk F, dkk. 2010. Pengantar Pangan dan Gizi. Jakarta Penebar Swadaya. Cakrawati, Dewi dkk. 2011. Bahan Pangan Gizi dan Kesehatan. Bandung Alfabeta. Fanny Tingkat Asupan Zat Gizi dan Status Gizi Siswa SMU PGRI Kabupaten Maros Propinsi Sulsel. Skripsi. PROFESI, Volume 14, Nomor 2 Maret 2017 57 Volume IX Edisi Januari-Juni. Hardiansyah, Briawan D. 2005. Penilaian dan Perencanaan Konsumsi Pangan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga. Laporan Penelitian. Bogor Institut Pertanian Bogor. Indrawigata L. 2009. Hubungan Status Gizi, Aktifitas Fisik dan Asupan Gizi dengan Kebugaran Mahasiswi Program Studi Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat. Skripsi. Jakarta Universitas Indonesia. Klau, Ciptorini, D., Styaningrum, 2013. Hubungan Asupan Energi Protein Lemak dan Karbohidrat Dengan Status Gizi Pelajar di SMPN 1 KOKAP Kulon Progo Yogyakarta. Program Studi S1 Ilmu Gizi. Universitas Respati Yogyakarta. Muchlisa., Citrakesumasari., Indriasari, R. 2013. Hubungan Asupan Zat Gizi dengan Status Gizi pada Remaja Putri di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ha-sanuddin Makasar Tahun 2013. Jurnal MKMI. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Hasanuddin Makasar. Nilsapril NR. 2008. Hubungan Konsumsi Energi, Protein, dan Serat Terhadap Status Gizi Usia Lanjut di Sasana Tresna Werdha Budi Mulia. Jakarta Selatan Universitas Indonusa Esa Unggul. Riset Kesehatan Dasar. 2010. Laporan Nasional. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Riset Kesehatan Dasar. 2013. Laporan Nasional. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Riyadi H. 2001. Metode Penilaian Status Gizi. Bogor Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Soekirman. 2000. Ilmu Gizi dan Aplikasinya Untuk Keluarga dan Masyarakat. Jakarta Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Soetjiningsih. 2007. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta CV Agung Seto Sopacoly MG. 2012. Hubungan Asupan Energi dengan Status Gizi Mahasiswa Pria Angkatan 2011. Skripsi. Manado Fakultas Kesehatan Masyarakat Univeristas Sam Ratulangi. Sumardillah dkk. 2010. Hubungan Tingkat Konsumsi Makanan dengan Status Gizi Siswa SMA di Bandar Lampung 2009. Jurnal Kesehatan Volume 1 No. 1 April 2010. Supariasa IDN, dkk. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta Buku Kedokteran EGC. Waryana. 2010. Gizi Reproduksi. Yogyakarta Pustaka Utama. Yuliansyah D. 2007. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Status Gizi Remaja Putri di Sekolah Menengah Umum Negeri Toho Kabupaten Pontianak. Skripsi. Yogyakarta Universitas Gadjah Mada. ... Persentase asupan lemak sebagai salah satu prediktor status gizi juga dilaporkan pada penelitian yang dilakukan di Makasar pada 89 siswa SMP dengan nilai p-value=Three burdens of malnutrition, namely undernutrition, overnutrition, and lack of macronutrients are problems faced by adolescents in Indonesia. Nutritional problems related to development and growth are often experienced by adolescents because the adolescent's body requires more energy and nutrients than children. Previous studies on nutritional intake and nutritional status in adolescents reported inconsistent results. This study aims to determine the relationship between nutritional intake and nutritional status in adolescent girls in Buleleng Bali. This study uses a cross-sectional analytic observational design conducted in two high schools in Buleleng Regency with 163 respondents. The instruments used in this study were a questionnaire, 2x24 hour food recall, weight measurement with a weight scale, height measurement with a mechanical meter, and the World Health Organization WHO AnthroPlus software to calculate the body mass index by age z-score. Spearman correlation test was performed for bivariate analysis and multiple linear regression for multivariate analysis. Bivariate analysis showed that the variables of fat intake p-value=Surakarta City is one of the cities in Central Java which is vulnerable to food insecurity events, especially transient food insecurity. This is because the city of Surakarta is a disaster-prone area from flooding, strong winds and landslides. This will have an impact on nutrition and food access for the people of Surakarta City when a disaster occurs. The role of the SKPG is very important in providing information for the Surakarta City government regarding the condition of food and nutrition, so that the response to food insecurity can be right on target. The SKPG is compiled by collecting data according to categories, which are then processed for policy making from the Surakarta City government. The quality of public food consumption in Surakarta City, Central Java is still far from ideal. This is indicated by the score of the Expected Food Pattern PPH which was still in the range of in 2016 which was even lower than 2014 which reached However, in 2019 PPH for Surakarta City was 94%, higher than the national target 92% based on SKPG annual report of Surakarta City 2019. Apart from the low level of public awareness, the economic condition of the residents can also be the cause of this low quality of food. The decreasing purchasing power of the people is directly proportional to their ability to meet the nutritional standards of the food they consume. The problem of low quality food consumption does not only occur in Central Java, but also nationally. The facts show that Indonesia is ranked the country with the worst food nutrition in the world. This is indicated by the still high number of children under five with weight and height not according to age, which is in the range of 37%, obesity is 12%, and thinness of 11%, this has the potential to lead to greater stunting cases. The occurrence of food and nutrition insecurity is generally caused by not meeting the amount of agricultural production to meet food needs in the region. SKPG is implemented as a measure to anticipate and overcome food insecurity in Surakarta. SKPG should be able to become a guideline so that even distribution and improvement of food security can be done. Based on the explanation of these problems, it is necessary to develop a Food and Nutrition Precautions System in Surakarta City. Key words Food, Nutrition, SKPG, Surakarta, Vigilance 0,05 chi square. Kesimpulan kesimpulan dari penelitian ini, terdapat adanya hubungan yang signifikan antara asupan zat gizi makronutrien energi dan asupan zat gizi mikronutrien kalsium, mg dan fe dengan status gizi pada balita di TK Pelita Pertiwi.... Sehingga apabila konsumsi energi yang tidak cukup berlangsung terus menerus akan mempengaruhi status gizi responden dihari kemudian. 21 Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Rahmawati 2017 mengungkapkan bahwa responden yang memiliki status gizi normal tetapi memiliki asupan karbohidrat kurang 30%. Sedangkan responden yang memiliki status gizi overweight tetapi asupan karbohidratnya kurang 20%. ...Ezha WidnatusifahSabaria Manti BattungBurhanuddin Bahar Marini Amalia MansurPendahuluan Kondisi bencana alam menyebabkan masyarakat yang tinggal di tempatpengungsian memiliki segala keterbatasan, baik dari segi sandang, pangan maupun papan. Ketersediaan pangan yang terbatas sangat berdampak kepada asupan zat gizi dan status giziremaja. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran asupan zat gizi dan statusgizi remaja di pengungsian Petobo, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Bahan dan Metode Jenispenelitian yang digunakan adalah observasional dengan desain penelitian deskriptif. Sampelpenelitian ini sebanyak 59 remaja dengan menggunakan tekhnik total sampling. Pengambilandata asupan makanan menggunakan metode recall 24 jam selama 2 hari pada hari sekolah danhari libur. Penentuan status gizi diperoleh dari parameter IMT/U. Pengolahan dan analisis datapada penelitian ini menggunakan SPSS. Hasil Hasil dari analisis diketahui bahwa asupan zatgizi makro responden masih kurang yaitu asupan energi kurang sebanyak 93,2%, karbohidratkurang sebanyak 78%, lemak kurang sebanyak 98,3% dan protein kurang sebanyak 89,8%.Asupan zat gizi mikro responden juga masih kurang yaitu asupan vitamin C dan folat kurangsebanyak 96,6%, kalsium kurang sebanyak 100%, zat besi kurang sebanyak 69,5% dan zinkkurang sebanyak 91,5%. Sedangkan status gizi responden tergolong baik yaitu sebanyak 84,7%dan status gizi kurang sebanyak 11,9%. Kesimpulan Asupan zat gizi makro dan mikroresponden masih kurang dari kebutuhan AKG yang telah dianjurkan dan status gizi respondentergolong status gizi SyarfainiUlfah HumaidahIrviani Anwar IbrahimAdolescence is a period of dramatic change in a person. This sudden increase in growth is accompanied by hormonal, cognitive and emotional changes. Teenagers really need more nutrients because of increased growth and physical development that is very drastic. This study aims to determine the relationship of food intake with the nutritional status of adolescent students of SMP Buq'atun Mubarakah Pondok Pesantren Darul Aman Makassar. This research method used quantitative analytic with cross sectional approach. Retrieval of food intake data used the food weighing method for 3 consecutive days. Determination of nutritional status was obtained from BMI/A parameters body mass index/age. Statistical test results showed no relationship between energy intake, protein intake, vitamin A intake, iron, zinc and fat intake with the nutritional status of students, but we obtained a significant relationship between carbohydrate intake and nutritional status. In addition, we found no relationship between diarrheal infections and typhoid infections with nutritional status. We recommend that the pesantren can design a varied list of food menus for students to fulfill a balanced nutritional statusS AlmatsierAlmatsier S. 2010. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta PT Gramedia Pustaka Seimbang Dalam Daur KehidupanS AlmatsierS SoetardjoM SoekartiAlmatsier S, Soetardjo S, Soekarti M. 2011. Gizi Seimbang Dalam Daur Kehidupan. Jakarta PT Gramedia Pustaka Energi pada Remaja Santri Putri Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Makasar Sulawesi SelatanA R AmeliaAmelia AR. 2013. Asupan Energi pada Remaja Santri Putri Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Makasar Sulawesi Selatan. Skripsi. Makasar Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Usia Yang ProduktifAstarwanAstarwan. 2008. Lanjut Usia Yang Produktif. Jakarta Pustaka Pangan dan GiziBaliwatiF YayukBaliwati, Yayuk F, dkk. 2010. Pengantar Pangan dan Gizi. Jakarta Penebar Pangan Gizi dan KesehatanDewi CakrawatiDkkCakrawati, Dewi dkk. 2011. Bahan Pangan Gizi dan Kesehatan. Bandung IndrawigataIndrawigata L. 2009. Hubungan Status Gizi, Aktifitas Fisik dan Asupan Gizi dengan Kebugaran Mahasiswi Program Studi Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat. Skripsi. Jakarta Universitas Asupan Energi Protein Lemak dan Karbohidrat Dengan Status Gizi Pelajar di SMPN 1 KOKAP Kulon Progo YogyakartaY H KlauD CiptoriniS D StyaningrumKlau, Ciptorini, D., Styaningrum, 2013. Hubungan Asupan Energi Protein Lemak dan Karbohidrat Dengan Status Gizi Pelajar di SMPN 1 KOKAP Kulon Progo Yogyakarta. Program Studi S1 Ilmu Gizi. Universitas Respati Asupan Zat Gizi dengan Status Gizi pada Remaja Putri di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makasar TahunMuchlisaCitrakesumasariR IndriasariMuchlisa., Citrakesumasari., Indriasari, R. 2013. Hubungan Asupan Zat Gizi dengan Status Gizi pada Remaja Putri di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makasar Tahun 2013. Jurnal MKMI. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Hasanuddin Konsumsi Energi, Protein, dan Serat Terhadap Status Gizi Usia Lanjut di Sasana Tresna Werdha Budi MuliaN R NilsaprilNilsapril NR. 2008. Hubungan Konsumsi Energi, Protein, dan Serat Terhadap Status Gizi Usia Lanjut di Sasana Tresna Werdha Budi Mulia. Jakarta Selatan Universitas Indonusa Esa Unggul.
asupan gizi paling besar yang diperlukan seorang pelajar adalah